• Home
  • About Me
  • Katalog
  • Video
  • Daftar Isi

Jumat, 11 November 2016

Merubah Gulungan Motor Induksi 3 Fasa Dari Tegangan 220 V Menjadi 380 V

       Menanggapi banyaknya pertanyaan dari para sobat blogger tentang merubah diamater kawat dan jumlah gulungan motor induksi 3 fasa dari tegangan 220 V menjadi tegangan 380 V yang tidak mungkin penulis jawab satu per satu oleh karena kesibukan dan keterbatasan waktu penulis, maka pada artikel kali ini penulis akan menjelaskan caranya. Harap disimak baik-baik agar para sobat bisa mengerti dan memahaminya.
          Apabila pada nameplate motor induksi 3 fasa tertulis data seperti pada gambar 1 di bawah ini dan jika kita ingin mensuplai motor induksi 3 fasa tersebut dengan sumber tegangan 380 V, maka kumparan motor induksi 3 fasa tersebut harus kita sambung segitiga atau delta (Δ).

Gambar 1. Sambungan segitiga (delta connection)

          Apabila pada nameplate motor induksi 3 fasa tertulis data seperti pada gambar 2 di bawah ini dan jika kita ingin mensuplai motor induksi 3 fasa tersebut dengan sumber tegangan 380 V, maka kumparan motor induksi 3 fasa tersebut harus kita sambung bintang atau star (Y).


Gambar 2. Sambungan bintang (star connection)

          Tetapi apabila pada nameplate motor induksi 3 fasa tertulis data seperti pada gambar 3 di bawah ini dan jika kita ingin mensuplai motor induksi 3 fasa tersebut dengan sumber tegangan 380 V, maka cara yang dapat kita lakukan adalah :


Gambar 3. Data pada nameplate motor

1.     Kumparan motor induksi 3 fasa tersebut harus kita sambung segitiga atau delta (Δ) dengan menggunakan trafo stepdown 3 fasa sebagai penurun tegangan sumber 380 V menjadi 220 V, atau
2.      Kumparan motor induksi 3 fasa tersebut kita gulung ulang dengan mengubah ukuran diameter kawat atau tetap menggunakan ukuran diameter kawat yang sama dengan ukuran diameter kawat semula. Setelah ukuran diameter kawat telah diketahui langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah kawat lilitan per fasa dengan rumus :

                                                                      108 x Ef                               
                                       Zf    =   ------------------------                         
                                                            4,44 x Φ x fp x fd x f

Dimana : 
Zf = Jumlah lilitan per fasa dalam Lilit
Ef = Tegangan fasa (sumber) dalam Volt
Ф = Jumlah fluks per kutub dalam Weber
fp = Faktor langkah (untuk langkah kumparan tidak diperpendek = 1)
fd = Faktor distribusi sesuai jumlah alur per kutub (lihat tabel)
 f = Frekuensi sumber listrik (standard indonesia f = 50 Hz).

Contoh :
Misalkan diketahui : Diameter lubang alur motor (D) = 8,9 cm, Panjang alur motor (L) = 8,8 cm, Kerapatan fluks pada udara bebas pe cm (B) = 5.400, Jumlah alur motor (G) = 24, Putaran motor per menit (n) = 1.410 rpm (dibulatkan 1.500 rpm).

Penyelesaian :
Jumlah kutub (P) = (f x 120) / n 
                          = (50 x 120) / 1.500
                          = 6.000 / 1.500 
                          = 4 buah

                                                               π . D. L . β
Total flux per kutub (Φ)   =   -------------------------
                                                                    P

                                                      3,14 x 8,9 x 8,8 x 5.400         1.327.993,92
                                 (Φ)   =  --------------------------   =  ----------------               
                                                                   4                                    4                   
                                                
                                                = 331.998,48 weber

Faktor distribusi (fd) = 0,966 (lihat tabel cara mendapatkan fd).

                                                                G                   24
Jumlah alur per kutub         =     ------------   =   --------   =  6 alur
                                                                P                    4

                                                                             G                    24
Jumlah alur per kutub per fasa (M)       =   ---------   =   -----------  =  2 sisi alur
                                                                           P x 3               4 x 3

                                                                         108 x 380                            
Jumlah lilitan per fasa (Zf)     =  --------------------------------------                          
                                                       4,44 x 331.998,48 x 1 x 0,966 x 50

                                                         108 x 380                             
                                          =  --------------   =  533,72 lilitan
                                                      71.197.735

Jumlah lilitan 3 fasa         =  533,72  x  3  =  1.601,17 lilit

                                                   1.601,17      
Jumlah lilitan per alur      =   ------------  =  66,715 lilit
                                                        24

Toleransi (penambahan) 10% = 66,715 + (66,715 x 10%) = 73,39 lilitan
Dibulatkan menjadi 74 lilitan

Catatan :
1. Cara untuk menentukan ukuran diameter kawat kumparan dapat dibaca pada buku “Menggulung Motor Listrik Arus Bolak-Balik (AC)”.
2. Cara untuk mendapatkan faktor distribusi (fd) sesuai jumlah alur per kutub dapat dilihat pada tabel 4.2 dalam buku “Menggulung Motor Listrik Arus Bolak-Balik (AC)”.

Sabtu, 29 Oktober 2016

Jenis-Jenis Desain dan Konstruksi Reaktor Biogas

          Desain dan konstruksi reaktor biogas telah banyak dikembangkan di beberapa negara dengan beragam material, mulai dari yang menggunakan teknologi sederhana hingga teknologi tinggi. Bahkan reaktor biogas dengan teknologi tinggi sudah terlebih dahulu dibangun di beberapa negara Asia, Eropa dan Amerika. Berikut ini adalah beberapa contoh konstruksi reaktor biogas dengan teknologi sederhana.

Gambar 1. Skema reaktor biogas sederhana asal Banglades

Gambar 2. Skema reaktor biogas sedehana asal Nepal

Gambar 3. Skema reaktor biogas sederhana asal China

Gambar 4. Skema reaktor biogas sederhana asal Jerman

Gambar 5. Skema reaktor biogas sederhana asal Laos dan Rwanda

Gambar 6. Skema reaktor biogas sederhana asal Tanzania

Gambar 7. Skema reaktor biogas sederhana asal Vietnam

Gambar 8. Skema reaktor biogas sederhana asal India

          Di Indonesia terdapat berbagai jenis desain reaktor biogas yang terbuat dari bahan antar lain plastik (biogas plastik), fibreglass, baja dan besi, serta batu dan beton, salah satu contoh skemanya seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Gambar 9. Skema reaktor biogas sederhana asal Indonesia

        Sedangkan beberapa contoh reaktor biogas dengan teknologi tinggi seperti ditunjukkan pada gambar-gamber berikut ini.

Gambar 10 Konstruksi reaktor biogas asal Jepang

Gambar 11. Konstruksi reaktor biogas asal Jerman

Gambar 12. Konstruksi reaktor biogas asal Kamboja

Gambar 13. Konstruksi reaktor biogas asal Malaysia

Gambar 14. Konstruksi reaktor biogas asal Swedia

          Dari penjelasan di atas konstruksi reaktor biogas untuk skala kecil dapat dibuat dari bahan yang sangat ringan seperti plastik, fibreglass dan bilik bambu. Keuntungan dari reaktor biogas yang terbuat dari bahan-bahan yang ringan tersebut jika dibandingkan dengan reaktor yang terbuat dari konstruksi batu dan beton (fixed dome) antara lain adalah :
·      Dapat dipindah-pindah.
·      Biaya pembuatannya relatif lebih murah.
Sedangkan kelemahannya antara lain adalah :
·       Memerlukan perawatan dan pemeliharaan yang lebih intensif.
·  Mudah mengalami kerusakan, misalnya reaktor biogas yang terbuat dari plastik harus benar-benar terlindung dari hewan seperti ayam dan tikus, karena kedua hewan ini sering menyebabkan kebocoran pada plastik akibat cakar (ayam) dan gigitan (tikus).
·  Biogas yang dihasilkan biasanya ditampung dalam kantung plastik, dan ada yang meletakkan kantung tersebut di atas langit-langit (plafon) rumah sehingga ada kemungkinan meledak dan terbakar.